Bahagia itu…

by gagsight

Jadi, bolehkan aku tanya sama kamu, “Apakah kamu bahagia sekarang?” Tebakanku, tidak akan ada banyak orang yang dengan penuh percaya diri menjawab “ya” untuk pertanyaanku itu. Sebenarnya, kebahagiaan adalah sebuah konsep yang agak fleksibel. Atau, harus aku sebut sebagai sebuah kondisi, daripada sebuah konsep. Orang-orang biasanya tidak memperoleh kepuasan dari apa yang telah mereka miliki, dan sebanyak apa pun yang mereka bisa syukuri, mereka sepertiĀ tidak menemukan kebahagiaan dari semua itu.

Selain itu, kebahagiaan juga dapat dibandingkan. Yang kita hitung bukanlah apa yang kita miliki, melainkan berapa banyak yang dimiliki orang lain. Orang-orang sering meninggikan kebahagiaan orang lain dan merendahkan kebahagiaan mereka sendiri. Kita menyebut asumsi demikian sebagai sebuah fokalisme (merendah untuk meroket). Kita sering menjadi korban dari fokalisme dengan menganggap diri kita tidak bahagia dan terjebak dalam berbagai persoalan.

Karena beragam alasan seperti itu, tidak banyak orang yang benar-benar merasa bahagia. Bahkan, mereka yang memiliki lebih dari segalanya merasa sulit untuk merasa bahagia karena mereka harus memiliki lebih banyak lagi dari yang dimiliki orang lain untuk tetap merasa bahagia. “Kebahagiaan adalah sesuatu yang bisa kamu lihat ketika kamu menengok ke belakang dan menemukan ketidakbahagiaanmu di sana.”

Banyak anak muda yang memprotes bahwa hidup menjadi begitu sulit. Harapan mereka adalah meraih puncak tertinggi dalam karier mereka, tetapi ketidakpastian untuk memperoleh kebahagiaan menjadi semakin bertambah. Semua anak muda yang hidup di masa sekarang sepertinya tidak pernah bebas dari rasa takut dan cemas ini.

Apakah kamu merasa bahwa semuanya begitu berat untukmu? Apakah kamu merasa tidak bahagia? Orang-orang menyuruh kita untuk mencoba melihat ke bawah ketika mengalami masa yang sulit, dan melihat ke atas ketika telah merasa berkecukupan. Pesan yang dapat kita ambil adalah, “Jangan, menyerah di tengah perjuanganmu, dan jangan merasa arogan ketika meraih kemenangan,”

Sebenarnya, jika kamu melihat sekelilingmu, kamu akan menemukan banyak sekali orang yang merasa cemburu padamu. Pikirkan berapa banyak orang yang harus melepaskan mimpi mereka untuk melanjutkan study karena berbagai alasan yang tidak dapat dihindari. Masih banyak orang yang harus merasa khawatir tentang bagaimana cara mereka bertahan hidup dalam situasi yang memprihatinkan, dan bagi mereka, membuat resume adalah hal terakhir yang bisa mereka pikirkan. Ada batas marginal yang dapat kita temukan dalam kehidupan sosial kita, sebuah ruang penuh kegelapan yang sulit terjangkau bahkan oleh radar media. Hari ini, mungkin kamu terbebani oleh kecemasan dan kekhawatiran, tetapi bagi sebagian orang lain juga, hari ini adalah hari yang hanya bisa mereka harapkan.

Seorang pemimpin terkenal berkata, “Perbedaan antara istana dan penjara tergantung dari apakah kamu bersyukur atau berkeluh kesah.”

Perkataannya benar. Jalan menuju kebahagiaan adalah melalui sebuah apresiasi. Aku berharap kamu ingat apa yang akan aku katakan sama kamu, jika kamu merasa tenggelam dalam persoalanmu, dalam hari-harimu beraktivitas, bebagai kegiatanmu yang menumpuk dan, rutinitasmu hari ini yang bikin kamu sebel (mungkin), ingat sebenarnya itu adalah sesuatu yang paling diinginkan orang lain juga untuk mengahadapinya.