Manajemen kolam ikan

by gagsight

Aku tidak tau apakah kamu pernah mendengar sebuah ungkapan yang begitu terkenal dikalangan anak-anak muda sekarang. Ungkapan itu adalah “manajemen kolam ikan”. Ada pula beberapa ungkapan yang berkaitan dengan ungkapan itu, seperti manajemen kolam ikan perempuan dan manajemen kolam ikan laki-laki. Bahkan, ungkapan tersebut dapat pula di temukan di kamus.

Manajer kolam ikan perempuan sama artinya dengan kata “pimpette” di Amerika, yang berarti seorang perempuan yang memiliki banyak teman laki-laki, yang jika cukup berharga akan didekatinya dan mendapatkan segala yang ia inginkan dari para lelaki itu, Meskipun demikian, ungkapan yang kita bicarakan sebelumnya sedikit lebih sopan dan tidak sevulgar pimpette.

Ketika melihat sekelilingku, tampaknya banyak mahasiswa yang memiliki kolam ikan. Suatu ketika, aku berbicara dengan seorang mahasiswa. Tiba-tiba sebuah petanda datang padaku, dan aku bertanya padanya, “Hei, kamu memiliki kolam ikan yah?” Mahasiswa itu tentu saja menyangkal pertanyaanku, tetapi teman-temannya berkata dengan penuh canda, “Kamu benar, ia memiliki kolam ikan yang mengagumkan.”

Kenapa beberapa mahasiswa memiliki banyak kekasih dalam waktu yang bersamaan? Dugaan pertama yang terpikir olehku adalah bahwa mereka mungkin tidak ingin terikat pada satu orang, karena selalu ada kemungkinan untuk bertemu dengan orang yang lebih baik dari orang yang mereka kencani sekarang.

Ketika berbelanja, atau mendaftar untuk semester baru, kita melihat semua kemungkinan tersedia, memilah-milah setiap kemungkinan itu, dan memilih yang paling tepat bagi kita. Karena faktor terpenting dalam proses ini adalah “karakter dan atribut dari setiap pilihan yang tersedia”, kita menyebut bentuk seleksi seperti ini sebagai seleksi berdasarkan atribut. Keuntungan dari seleksi berdasarkan atribut adalah kesempatan untuk membuat keputusan setelah memeriksa semua alternatif yang tersedia secara berdampingan.

Namun tentu saja, bentuk seleksi ini tidak sama dengan caramu memilih kekasih hati. Ketika berkencan dengan seseorang, biasanya kita tertarik pada satu orang pada saat itu. Kita hanya memutuskan berkencan dengan orang itu atau tidak, dan bukan membandingkan setiap alternatif melalui atribut yang mereka miliki.

Oleh karena itu, dalam kasus ini, proses seleksi yang berjalan berdasar pada alternatif yang ada. Ketika melakukan proses seleksi berdasarkan alternatif, kamu akan membuat keputusan untuk sebuah persoalan yang muncul pada satu waktu. Begitu kamu membuat keputusan, kamu akan membutuhkan banyak uang dan usaha untuk mengganti pilihanmu ketika alternatif yang lebih baik tersedia.

Dengan demikian, mereka yang memiliki banyak teman kencan bisa dikatakan melakukan seleksi berdasarkan atribut, bukan seleksi berdasarkan alternatif. Mereka menganggap memilih teman kencan sama seperti memilih baju atau tas ketika mereka berbelanja. Menurutku, fenomena ini adalah akibat dari konsumerisme modern yang pengaruhnya telah menyebar hingga ke dalam hubungan manusia.

Yang paling ironis dari proses ini, meskipun tampak begitu logis dan memberikan banyak kesempatan untuk memilih dari beragam alternatif yang tersedia, adalah bahwa hasilnya tidak selalu lebih baik dari proses seleksi yang hanya menyediakan satu alternatif. Aku tidak ingat pernah mendengar orang yang menemukan kekasih yang benar-benar mereka cintai hingga akhir setelah memilih salah satunya dari kerumunan. Aku tau banyak kasus sama yang melibatkan orang-orang yang kukenal, dan aku telah menjadi saksi dari banyaknya kejadian yang sama yang dialami para mahasiswa. Jadi, aku bisa dengan percaya diri menyimpulkan bahwa hasil dari manajemen kolam ikan tidak seperti yang diharapkan oleh manajer itu sendiri.